Loading



Belajar Dari Daun

AGEE COMPUTER | 8:26 AM | | |
Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, 
daun tidak pernah membenci angin meski harus terengutkan dari tangkai pohonnya.. 

dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya. Setidaknya mengajarkan pada kita, Bahwa hidup harus menerima.. penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti.. pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami.. pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. 

Tere Liye 



Dari daun yang jatuh saya diajarkan tentang menerima, mengerti, dan memahami.. 
Saya ikhlas atas segala takdir yang Tuhan tetapkan pada saya,, 
dengan ujian yang diberikan-Nya, semoga menambah kemuliaan dihadapan-Nya.. 

Saya memahami kehidupan melalui sang daun. Orang yang memendam perasaan sering kali terjebak oleh hatinya sendiri, begitu pun saya pernah mengalami rasa dendam yang luar biasa. 

Bagaimana seseorang yang kamu cinta berselingkuh, dan direbut. Memang awalnya saya sangat membenci sang perempuan, yang sangat tega merenggut kebahagiaanku. Dendam itu hingga berbulan-bulan hingga aku menyadari bahwa dendam itu hanya menyengsarakan hati sendiri. Saat itu saya melihat daun yang jatuh, saya merenung, banyak sekali yang saya renungkan kala itu. Hingga mendapat kesimpulan seperti Tere Liye katakan --- "daun yang jatuh tak pernah membenci angin, daun tidak pernah membenci angin meski harus terengutkan dari tangkai pohonnya.." 
Akan kah saya menangis ketika itu? tidak. Hanya meninggalkan sedikit kekecewaan, kecewa padanya, dan mungkin lebih tepat kecewa pada diri saya sendiri, karena salah memaknainya. Menggantungkan rasa itu pada manusia, toh dia tetap manusia, yang juga tak luput dari kesalahan, dia duakan seseorang yang tak sempurna, mencari yang sempurna tapi kelak akan ada seseorang yang menyempurnakannya seseorang yang pernah dia anggap tidak sempurna. Tapi memang benar, saya tidak sempurna, justru ketidak sempurnaan saya, saya lebih banyak belajar, dan saya yakin akan mendapatkan seorang yang mampu membuat saya sempurna. Tuhan menjawab doa saya, Tuhan telah memberikan saya seseorang yang menyempurnakan saya.

Kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan tersebut, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah "pekerjaan jiwa" yang besar dan agung: MENCINTAI. Karena saya pernah mengalami kekecewaan, perasaan terhina, bahkan juga melankolis. Dari sini saya belajar untuk memaafkan, dan ikhlas. 

Saya memaafkan perempuan itu, dan laki-laki yang telah mengkhianati saya beberapa tahun silam. Saya hanya tidak ingin diikuti rasa dendam dalam hati. Yang saya syukuri, dan saya nikmati, saya mendapatkan seseorang (yang sekali lagi harus saya tulis) yang mampu membuat saya sempurna dengan cinta dan kasih yang telah ia berikan kepada saya yang sebelumnya saya belum pernah merasakan cinta yang seperti ini. 

Repost.
Madiun, Sunday, August 21, 2011 

Read More

Sajak Dari Malam

AGEE COMPUTER | 5:39 AM |

Malam ini bangunlah tiang lalu tancapkan pada lubang luka
agar angin gelisah tersumpal di dalamnya.
mungkin kau dapat ukur berapa berkuasa kalbu atas pikiran dan harapan
langkah-langkah yang hijaukan jalan panjang milik bayi-bayi tersenyum yg lahir dari wajahmu, wahai rabu beralamat rindu.
Malam, berilah cahaya pada pengembara yg menunduk, agar dia tegak serupa tiangmu kukuh menantang ragu.
Read More

Antara Gajah atau Kuman

AGEE COMPUTER | 12:05 AM |
“Gajah dipelupuk mata tidak terlihat, kuman diseberang lautan kelihatan.” Peribahasa tersebut mengandung arti “kesalahan diri sendiri tidak terlihat, kesalahan orang lain terlihat.”
Setiap individu pasti pernah melakukan kesalahan pada orang lain. Itu wajar dan sangat manusiawi. Urusan menyakiti orang lain paling mudah dilakukan dan dilupakan, termasuk saya. Mungkin karena itu manusiawi lalu kita begitu saja melupakan kesalahan kita sendiri. Namun, saat orang lain melakukan kesalahan pada kita, biasanya kita selalu mengingat dan mungkin kita dendam pada orang yang pernah menyakiti kita. Bahkan mungkin setiap detik kita akan selalu merasa tersakiti oleh kesalahan orang itu, dan cenderung akan terus membahas masalah tersebut hingga hati merasa puas.



Saya akui, sifat saya seperti itu, selalu ingat dan terus merasa tersakiti. Bahkan jika saya teringat hal2 tersebut, saya ingin selalu membahasnya berkali-kali, namun terkadang juga sering saya urungkan niat. Saya lebih memendam dalam hati, meski sakitnya hati ini. Menyakiti orang lain bisa terjadi karena kelalaian sendiri atau emosi yang sudah lagi tidak terbendung. Ini terjadi pada saya ketika akan datang bulan, seolah-olah mereka yang didekat saya itu orang-orang yang paling menyebalkan, karena saya menjadi sngat sensitif dan mudah marah. Atau bisa jadi, orang-orang terdekat saya itu memang kurang memahami saya, sehingga apa yang saya pendam dan tidak terbendung akhirnya emosi saya meluap. Yah, itu adalah nilai buruk dari saya, tapi sebenarnya saya baik hati kok :)

Kemarahan juga timbul karena iri atau cemburu terhadap seseorang. Mungkin mereka yang pernah merasakan cinta pasti akan merasakan cemburu. Contoh saja semisal kekasih kita terlalu perhatian sama lawan jenisnya atau bahkan mantannya. Kita sebagai pasangannya tentu saja cemburu, tapi kita sendiri tidak sadar terkadang kita juga masih memberi perhatian atau paling tidak “ngintip” sosmed sang mantan. Hayooo….. Contoh lagi, semisal pacar atau pasangan kita sering kirim-kiriman email, kita sebagai pasangannya akan merasakan cemburu, padahal pacar kita hampir tidak pernah menulis kata-kata seperti itu pada kita sendiri yang notabene pacar atau pasangannya. Tapi kita sendiri dilingkungan kampus atau bahkan kantor sering berduaan dengan teman kampus atau kantor, lalu menjadi cinta lokasi, akhirnya kita sendiri yang selingkuh (kalau ada yang merasa soal ini, ya syukur deh).

Dalam hal ini kita harus saling mempunyai rasa tenggang rasa yang kuat, berempatilah terhadap pasangan kita. Jika kita tidak mau ditusuk dari belakang, ya jangan menusuk dari belakang juga. Jika kita tidak ingin disakiti ya jangan menyakiti. Memang melihat kesalahan sendiri itu sangat sulit dilakukan. Terkadang bahkan sebagian orang tidak menyadari itu.

Mungkin ada beberapa orang yang sadar akan kesalahan dan tidak malu untuk mengakuinya, dan meminta maaf kepada orang yang disakiti. Namun ada orang yang bertahun-tahun masih membahas kesalahan orang lain tanpa melihat dia juga pernah melalukan kesalahan. Betul apa pepatah, “Buruk muka cermin dibelah”.

Merry Indria,
original posted: 18 Januari 2013
on Facebook The first post on 2013 :)
Read More