.
Indah warnamu,
Semerbak harummu
Kuncup bunga yang digayuti akar tua
Menunggu mekar dan menghias halaman hati yang terkapar
Kuncup bunga, mekar dan berkembang,
menebarkan wangi bersama sinar matahari yang menusuk tajam pada mata jendela kamarku.
Ku menulis sebait-demi bait untukmu
Dengan kata-kata yang sederhana tiada habis, tak akan habis tentangmu
Ia akan terus berkembang dan akan terus tumbuh
Tumbuh indah mekar nan mewangi dalam taman hatiku.
.
.
By Merry Indria, Tuesday May 3, 2011 at 10:08 am.
Thank you for giving me the picture, Mr. Colin Ligertwood, you are best photographer whom I know. Love your pictures.. Thank you..
Read More
Saat kau pergi melambaikan tanganmu, dan akupun tak mampu menghentikanmu, hatiku kelu, merintih kesakitan terisak dan menangis. Hanya bait-bait doa yang aku lantunkan untukmu.
Aku menantimu di sini, ditemani dua pohon yang berdiri kokoh. Di tepi lautmu aku menunggu, berharap ketika kau tersenyum pada daratan aku yang pertama kali melihat senyum itu, dan berlari menuju cintamu, memeluk dan mendekap erat merasakan detak jantung kebahagiaanmu.
Di sini, di tepi lautmu, aku duduk merenung seorang diri. Memutar kembali pada ingatan yang lalu, membuka album yang tersimpan rapi pada otak kerinduan. Ingin menandai satu persatu gambaran tentang kehidupan bersamamu, menandai pahit getir, manis kisah percintaanku denganmu, menandai dengan bintang keemasan yang tak akan merasa redup sinarnya.
Aku tak akan pernah merasa bosan, letih, keju yang membuncah hati, karena cintamu selalu ada menemani dan menguatkan rasa cinta dan rindu. Dan peri kecil yang kau titipkan padamu akan selalu ceria berbincang denganku meski hatiku terkadang bimbang menantimu.
.
Read More

Aku masih mengintip pada sisi jendela kamarku, sekedar meletakkan untaian rindu padamu.
Aku tak pernah tahu, engkau yang mengendap-endap di jendela kamarku,
dan mencuri untaian rinduku;
rindu atau sekedar embun masa lalu.
Bagiku, bagimu, cinta adalah rumah penuh rindu, tempat pulang dengan tenang.
Aku selalu tersenyum ketika melihat diriku, sendiri di dalam pikiranmu.
Namun ketika cinta itu telah tiada dan karam, entah siapa yang akan menggoreskan lukisan pada kanvas kebahagiaan.
Hatiku adalah ruang tersunyi dalam riuh rindumu, tergelap dalam gemerlap harapmu.
Ada saat dimana, sajak akan berguguran dari matamu,
dan kamu akan sadar, namanya tak lagi tertulis; bahkan di ingatanmu.
Aku beriak, tak ingin dalam-dalam, menenggelamkanmu.
Apa yang layak kaukenang dariku selain kesedihan yang sudah tentu.
Read More