Loading



Showing posts with label Short Story. Show all posts
Showing posts with label Short Story. Show all posts

What's Going on With Me??

AGEE COMPUTER | 9:47 AM | | | |
 Picture from here


Akhir-akhir ini ada banyak hal yg aku (ingin) ketahui tentang kehidupan. Secara pribadi aku belum mengenal lebih jauh siapa aku. Kenapa aku? Dan mungkin apa yg terjadi denganku?

Aku dulu pernah mengalami "mental breakdown" (mungkin), tapi yang pasti aku sering mengalami gangguan perasaan, entah itu apa. Terkadang aku bisa merasakan seneng, dan tiba-tiba aku bisa merasakan sedih meskipun dua hal tersebut tidak langsung berganti dalam suatu kurun waktu yang sama. Yang pasti disaat aku tersakiti, satu hal yang hanya di dalam pikiranku saat itu adalah "aku ingin mati". Di luar aku memang terlihat baik-baik saja, namun di dalam hati aku masih masih menyimpan hal-hal yang mampu membuatku "DOWN".

Aku pernah melukai pergelangan tanganku sendiri, yang pasti saat itu orang tuaku mungkin tidak pernah tahu, dan aku selalu menutupi hal-hal yang menyedihkan tentang aku, itu karena aku tidak ingin mereka ikut merasakan. Dan luka gores itu masih ada, disebelah tangan kiriku. Bahkan aku pernah meminum pemutih pakaian, hanya gara-gara orang yang menghancurkan hidupku hanya semenit. But, God still give me a life. 
Entah aku sedang mengalami depresi atau apa, yang pasti hingga saat ini jika ada seseorang yang menyakiti aku, terlebih dia orang yang aku sayang, aku cuma ingin melukai diriku sendiri. Bahkan terkadang aku bisa melakukan hal-hal yang diluar dugaan. Antara sadar dan tak sadar, aku pernah mencekik suamiku sendiri (sorry hubby). Tiba-tiba marah tanpa bisa terkontrol, dan hal sepele pun mampu menyulut emosiku hingga tak sadarkan diri banyak ucapan yang aku keluarkan telah menyakiti orang-orang disekelilingku. Tiba-tiba marah terhadap orang yang di jalanan yang seenaknya sendiri, tanpa bisa mengontrol amarah yang seharusnya tidak perlu keluar. Saat seseorang terdekat menyakitiku aku merasa ada yang berbisik, dan membuatku berfikir membenarkan bisikan tersebut. Aku tak pantas hidup, aku hanya menyusahkan, dan aku hanya membuat mereka terbebani akan kehadiranku, jika aku tak ada alangkah indah tak akan ada orang sepertiku. Bisikan-bisikan itu yang terkadang membuatku merasa kecil, dan minder, kurang percaya diri. Kesakitan, kekecewaan dan rasa pedih mungkin saja sudah berkumpul bahkan ada rasa dendam yang masih aku simpan rapi dalam hati. Aku tahu dan aku sadar menyimpan perasaan-perasaan ini akan membunuhku di kemudian hari, tapi aku tak tahu bagaimana cara menghilangkannya. It's so hard to leave from this situation.

Seperti yang aku katakan di atas, krisis percaya diri pun saat ini aku alami. Aku tak pernah bisa nyaman bergaul dengan siapapun kecuali orang-orang yg sudah lama mengenalku. Memulai hal baru dengan orang-orang baru sangat sulit bagiku, bahkan hanya dengan tulisan. Aku hanya bisa berbicara dan menulis dengan diriku sendiri dan orang-orang terdekat. Dan pikiranku hanya dipenuhi pikiran negatif tentang orang-orang baru. Aku hanya takut tidak diterima oleh mereka. 
Dampaknya, aku juga memperlakukan hal tersebut kepada anakku. Aku tak pernah tega dia disakiti oleh teman-temannya, dan aku juga takut jika dia tidak bisa diterima oleh teman-temannya. Aku tak segan-segan memarahi bahkan melukai jika mengganggu anakku. Entah apa yang aku rasakan, yang pasti krisis kepercayaan sudah tertanam pada diriku. Sometimes you don’t know who you can and cannot trust, I still learn that over and over again. Belajar percaya kepada orang lain, tapi akhirnya dikhianati. Aku sering mengalami, pada teman bahkan pada pacar. Dari peristiwa2 itu membuatku sulit percaya, bahkan bisa mencapai paranoid, korbannya suamiku sendiri. 

Entah apa yang aku rasakan, suasana malam sering membuatku tiba-tiba menangis tanpa sebab. Pernah suatu malam, suamiku menemukanku saat aku menangis, jika aku menjawab "I'm fine, I am okay", itu akan membuat suamiku semakin bingung, akhirnya aku berbohong kalau aku sakit, padahal aku tidak tahu kenapa, yang ada dalam pikiranku hanya kilas balik kejadian-kejadian buruk di masa lalu. Menjadikan aku menumpukan rasa dendam, sakit hati yang tak bisa tersalurkan.

Aku merasakan banyak yang aneh dengan diriku, sepertinya aku tidak normal, aku tidak seperti orang-orang di luar sana. 
Aku menulis tentang ini bukan karena berita heboh tentang Penyakit yang diderita Marshanda. Tapi lebih kepada aku mengeluarkan segala rasa yang sering aku rasakan. Aku berharap aku normal, aku tidak depresi atau mengidap bipolar disorder. Aku hanya ingin menuangkan apa yang aku rasakan. Biasanya aku akan lebih baik jika apa yg aku rasakan bisa tertuang melalui cerita, puisi atau bahkan hanya sebatas tulisan seperti ini. Namun lebih baik lagi jika aku bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan, apa yang aku pikirkan bisa aku ceritakan kepada orang terdekat. Yah, namun aku yakin aku termasuk orang normal seperti kebanyakan orang-orang normal lainnya.

Penderita insomnia, mungkin aku punya gejala tersebut. Bahkan ketika aku masih duduk dibangku SMA, sebulan aku bisa tidur jam 3, pagi harus ke sekolah, dan akhirnya tertidur di kelas. 
Dan dibangku SMA itu juga aku pernah mengalami sedikit gangguan dari teman-teman yang aku anggap mereka baik, tapi kenyataannya tidak. Suatu ketika saat pagi aku datang, di papan tulis aku membaca tulisan yang menyakiti hatiku. Tulisan seorang teman sekelas, dia tulis saat sepulang sekolah dan aku membacanya keesokan harinya. Tulisan itu mengganggu pikiranku, seburuk itukah aku?? Aku bahkan tidak tahu apa salahku, aku tidak tahu kenapa mereka begitu kepadaku. Beruntung aku masih punya sahabat-sahabat yang mampu memberiku semangat ketika segerombolan anak sedang memojokan aku dengan tulisan2 buruk itu. Berantem dengan kakak kelas, dan adik kelas tanpa tahu penyebab permasalahannya. Aku seperti diintimidasi oleh mereka secara bergantian.
Masih banyak kejadian pahit yang aku alami tentang pengkhianatan seorang teman. 

Begitulah hingga aku masuk ke perguruan tinggi, kebetulan aku "berhenti" sekolah dua tahun. Semenjak itu aku merasa kepercayaan diriku menurun. Aku jadi susah bergaul, dan pernah merasa terkucilkan di dalam suatu kelompok extrakulikuler. Akhirnya aku memuruskan keluar dari ekskul tersebut, karena aku merasa zona ini sudah tak nyaman. Melihat cara mereka memandangku, rasanya aneh atau aku saja yang merasakan yang aneh. Keluar dari situ, aku gabung dengan team paduan suara, meski begitu aku masih merasa kurang nyaman. Hingga akhirnya aku punya sahabat, Sebut saja namanya Bagus. Dia sahabat yang selalu ada saat aku kesepian, saat aku gembira. Tapi pada akhirnya dia juga menghindariku, aku tak tahu pasti. Entah dia sudah punya kekasih atau apa aku juga tidak pernah tahu. Tak pernah ada ungkapan atau gambaran tentang kesalahanku. Bertambah lagi pertanyaan-pertanyaan yang ingin aku cari jawaban. Hingga aku menemukan dua orang teman yang awalnya akj anggap mereka adalah teman baikku. But, totally not true. Mereka sama seperti teman yang datang ketika butuh, entah apa yang mereka butuhkan dari aku. Setidaknya jika mereka teman yang baik, akan menegur kesalahan sahabat/temannya, bukan mendiamkan lalu memusuhi,  ngomongin keburukanku dibelakangku dan menghasut teman yang lain untuk tak berteman denganku.

Begitulah seterusnya, aku tidak pernah bisa berjalan beriringan dengan sahabat perempuan sejak aku lulus SMA. Bagiku mereka adalah sahabat terbaik yg tidak pernah aku temui di perguruan tinggi. Mereka mampu menerimaku apa adanya, bahkan mereka tak segan menbantu jika aku memerlukan mereka. Dan itu tak aku temui di saat aku kuliah. Hanya memikirkan diri sendiri, itulah yang aku rasakan. Kebanyakan teman yang paling peduli denganku itu adalah laki-laki, tanpa memandang dia suka atau tidak denganku. Semenjak aku menikah mereka sudah menjaga jarak, dan lagi I don't have a friend to share anything.

Krisis percaya diri sepertinya sudah menempel padaku. Bahkan yang aku tahu pada diriku hanya kelemahan, aku tak mampu melihat sisi kelebihanku. Aku merasa seperti dan sering diremehkan, tak pernah ada yg memuji atau memberi award berupa support mental kepadaku. Tak jarang jika aku merasa seperti ini aku bisa menangis sendiri yang hanya ditemani lampu kecil. 
Tak ada teman yang bisa berbagi kisah seperti dulu waktu SMA, seperti dua sahabat yang mau mendengar dan memberi pelukan hangatnya.

Bahkan tak ada yang bisa aku ajak bicara seperti ini, kecuali blog ini. Aku hanya ingin bilang aku cuma ingin diterima. Begitu sulit membangun kembali rasa percaya diri, bahkan orang terdekat pun terkadang membuat rasa percaya diri itu semakin memburuk. 
Rasa kesal, marah, dan sedih bahkan gembira sulit untuk aku bagi. Kepada siapa?? Untuk apa?? Dan kenapa?? Bahkan aku sendiri tak tahu apa yang sedang terjadi denganku. 

Sehari-hari hanya ingin dirumah, bahkan suatu masa aku ingin pergi dari rumah, mencari sesuatu yang baru, mungkin mencari teman baru, atau buku baru bahkan benda-benda baru yang bisa membuatku tenang. Tapi, di sisi lain untuk beranjak dari rumah merupakan hal yang berat, banyak faktor, salah satunya pertanyaan tadi, "apa ada yang mau menerimaku?"

Sering kali aku merasa iri kepada teman-temanku yang memamerkan foto dirinya tertawa dengan teman2nya. Dia menunjukan, bahwa dia tak sendiri. Bahkan banyak bentuk perhatian yang dia petik dari teman-teman mereka. Yah, itu yang tidak aku dapatkan sekarang. Bahkan untuk mengajak foto selfie dengan suami pun tak punya keberanian, rasa takut ditolak selalu menjadi hal penghalang. 

Dari sekian tahun lamanya aku memendam rasa, keinginan mencari tahu kenapa aku? Ada apa denganku? Aku akhirnya memberanikan diri untuk menulis ini. Mencari jawaban atas pertanyaan2 dan mencari solusi untuk memecahkan pertanyaan tadi. 

Yang pasti ada satu hal yang bisa membuatku tenang saat aku mengalami hal-hal tersebut tadi. Yaitu, musik. Mendengarkan musik yang cocok dengan suasana hati, yang mampu menenangkan jiwa meski terkadang akan mengoyak lebih keras lagi. Tapi ada satu hal yang mampu menguatkan aku, yaitu keluarga terutama anak dan suami. 


Aku harap aku ingin segera menulis kata "THE END" di akhir jawaban tanpa ada sebuah pertanyaan lagi yang aku harus cari jawabannya kembali. 
Read More

Lunch At Mang Engking Solo

AGEE COMPUTER | 2:21 AM | | |
Liburan... Tiap hari kan saya libur sama anak terus, hehe... Kali ini sih sebenernya bukan liburan yah lebih tepatnya lagi ada misi nyari mesin buat photo booth di Solo. Berangkat dari rumah sudah siang banget, nyampek Solo ternyata yang di cari udah ga ada, alias rumahnya kosong, akhirnya perut keroncongan dan perjalanan istirahat di Mang Engking. Sebuah tempat makan bernuansa pedesaan, ada danau-danauan yang banyak ikan berenang di sana, ada lagi nih perahu untuk menikmati danau kecil di sana.

Menu di Mang Engking ini menyediakan masakan tradisional, ada gurame bakar, udang bakar, tumis kangkung dan lain-lain. Tempat makannya juga menarik, di sediakan lesehan dipinggir danau kecil,
kita juga bisa lho ngasih makan ikan-ikan yang ada di danau, jika kita sudah melempar makanan ikan-ikan ngumpul berebut makanannya. Tempatnya cocok untuk keluarga, anak saya seneng banget padahal sebelumnya dia abis teler di perjalanan, melihat tempatnya yang indah seperti ini dia meresa seperti di desa kali yah, jadi bawaannya dia seneng.

Saya waktu itu pesan gurame bakar, dan jus semangka. Di makan bertiga dengan suami dan anak. Kakak saya pesan udang bakar dan tumis kangkung. Sambalnya enak banget, seger. Bumbu gurame dan udang bakarnya juga lezat, semua porsi yang kita makan habis ludes. Minuman yang kita pesan juga ga kalah nikmat, seger, dengan cuaca yang agak panas yah, minuman jus lebih cocok menurut saya.

Setelah makan habis, kita mencoba terapi ikan. Kebetulan di depan disediakan kolam untuk terapi ikan, gratis lagi. Kesempatan ini dimanfaatkan sama suami dan kakak-kakak saya. Saya sih liatin mereka saja dan sambil ketawa melihat ekspresi muka-muka mereka yang digelitik sang terapi, ikan-ikan kecil, enath jenis ikan apa itu, saya kurang mengerti. Liburan mendadak yang penuh cerita. :)




*Kita lagi foto di depan rumah makan Mang Engking, Solo.


*Anak saya yang lagi bergembira, setelah teler diperjalanan. Sekarang tuh udah ceria.. :)

Sebenernya saya masih ada beberapa foto lagi sih, kebetulan saya sempat memotret (meski pake kamera HP) salah view utama di Mang Engking. Nanti deh kalau sempat.. :)



Read More

Bersih Itu Perlu

AGEE COMPUTER | 2:31 AM | |
Hari ini seharian nglimbang-glimbung kaya orang kurang kerjaan (emang ga punya kerjaan), rumah sudah beres, nyiapin nasi untuk makan siang juga sudah, mana ditinggal suami mancing lagi, anak lagi main di rumah neneknya. Di rumah sendiri, mau tidur juga ga bisa, akhirnya baca-baca blog dan lihat-lihat foto di instagram. Ga betah lama sendiria. Di rumah, nge-BBM suami deh biar pulang cepet, belum BBM di baca eh dateng, syukur deh bawa ikan, yaaay masak ikan *lonjak kegirangan*. Sayangnya, ada rempah yang ga ada, dan terpaksa saya yang harus perhi ke pasar terdekat. Ternyata toko pada tutup semua, akhirnya deh berangkat ke pasar besar.



Di pasar besar hari ini saya dikagetkan dengan suatu peristiwa yang jorok. Ceritanya gini, saya muter keliling pasar nyari penjual serai, akhirnya ketemu deh. Akhirnya saja beli serai Rp. 2000 kepada seorang bapak yang sedang berjaga warungnya. Eh pas udah nengok sambil bawa serai buat saya, ternyata bapaknya yang jual sedang ingusan, eeewww.. Mana tangannya pegang-pegang hidung yang ingusnya keluar dari hidungnya, makin bergidik jijik lihatnya. Mau bilang ga jadi beli kan ga enak, terlanjur bilang beli serai Rp.2000. Akhirnya serai saya terima dengan tangan agak sedikit jijik yah, karena saya tahu tangannya itu abis "sisi". Setelah menjauh dari lapak bapaknya tadi, saya taruh serainya di tempat lapak kosong dekat lapak bapakny tadi, entah dia tau enggak yang penting saya ga pegang benda yang abis dia pegang. Saya terpaksa beli serai lagi di lapak seorang ibu yang "sehat".

Dari kejadian ini saya berandai-andai, kalau saya sedang sakit flu, mbok yao pake masker, atau paling enggak jangan jaga lapak dulu deh, ganti yang alin buat jaga lapaknya, kalau kaya gini kan konsumen juga jijik lihat hidung ingusan (mbeler; bahasa jawa) terkesan jorok dan ga paham kebersihan. Dan pelajaran nih buat saya juga, tahu gitu saya bilang ga jadi beli aja pak, abis bapaknya jorok sih, tuh ingus ga dilap pake tisu, hahahahahaha.... Harusnya saya gituin yah tadi biar bapaknya tahu diri biar ga pamer ingus ke pembeli.

Sampai detik saya nulis ini saya masih bergidik jijik kalau inget kejadian tadi. Gara-gara si bapak nih saya hilang duit Rp. 2000. Tapi tak apalah daripada saya kena virus yang dibawa bapaknya tadi, lebih baik kan sehat, bisa makan dengan lahap dan beraktifitas.

Read More

Akhirnya Ketemu Juga

AGEE COMPUTER | 3:29 AM | | | | |
Penantian selama hampir setahun akhirnya berakhir dengan indah. Yaay, akhirnya ketemu juga kdengan suami tercinta. Menunggu selama itu memang tidak mudah bagi orang yang tidak pernah terbiasa jauh dari suami. Saya sendiri yang terbiasa jauh, kali ini benar2 menderita karena saya tidak pernah jauh selama itu, hampir setahun.

Setahun kurang 2 minggu, sebut saja setahun. Sebenernya mau cerita tentang kejadian lucu di hotel, tapi saya urungkan dikarenakan mebuat saya malu, hihihi..
Lama ga ketemu suami, ada yang berubah sih dari dia, makin ndut, tapi aku makin suka, membuktikan istrinya ga pernah bikin stress, hahaha...



Jalan-jalan di malam hari di Jogya itu sangat seru. Kebetulan sih hotel kami tak jauh dari Malioboro, paling cuma -/+ 500 meter, kita ambil langkah seribu alias jalan kaki. Untung saat itu saya siap sedia sendal jepit, jadi kaki ga pegel- pegel bangetlah karena high heels kebanggaan saya. Malam itu kami nyari mie jawa, mie yang dimasak pake tungku. Ketemu di belakang jalan Malioboro. Dari jauh sih ditulis "Mie Jawa", seneng deh kita, eh nyampek di dalam ternyata masaknya pake kompor biasa, tapi untuk rasa sih ga kalah enak sama mie jawa. Banyak tempat angkringan di Jogya, tempat ngumpul para anak muda Jogya. Sebenernya saya dengan suami akan bergadang yah sambil makan di angkringan deket hotel, tapi melihat pemandangan lampu-lampu dari kamar hotel jadi males banget buat turun, jadi ya keenakan lihat view dari kamar jadi ngantuk deh..

Besoknya kita jalan-jalan ke Malioboro, lebih tepatnya nyari makan siang dilanjut ke Kaliurang. Tepat di lataran Malioboro ada rumah makan (lupa namanya apa), menu makanan semua pedes. Kebetulan saya pesan ayam penyet dan suami pesan ayam betutu. Pas hidangan yang kami pesan diantar, saya agak kaget sih kenapa suami saya malah ngasih saya ayam berbumbu kuning sedikit berkuah tapi rasanya enak banget, sedangkan saya sadar saya pesannya tadi ayam penyet. Eh, tahunya suami saya belum tahu ayam betutu itu kaya apa. Jadi, pesanan kita ketuker. Saya makan pesanan suami, dan suami makan pesanan saya, padahal saya tahu dia pengen makan ayam betutu, eh malah saya yg makan.. hihihihi.. Abis makan siang kita ke Kaliurang deh. Melihat jalanan kota Yogyakarta jadi pengen banget tinggal di kota ini, ga panas, tapi ramai, banyak kendaraan berseliweran, yah maklumlah kota besar.

Besok paginya saya pengen makan nasi kucing, jadi jatah breakfast kami kasih ke kakak saya yang kemarin siangnya nyusul kami ke Jogya. Saya yang doyan makan,  beli 2 bungkus, saya harap sih pas sama perut eh ternyata kurang, dan lucunya dua bungkus nasi kucing lauknya berbeda. Bungkusan yang pertama saya hanya makan nasi dan kering tempe, bungkusan kedua isinya cuma nasi dan sambel teri, tapi sambelnya enak banget, aku beli di dekat hotel Arjuna, sebelum Grand Zuri. Siangnya kami bersantap di empek-empek sekitar jalan Malioboro, dilanda rasa lapar karena capek berkeliling benteng Vredeberg. Sudah lapar, kaki lecet lagi gara-gara jalan kaki jauh pake high heels lagi (salah sapa ngene ki jal?!) hahaha...

Hari terakhir seneng mau pulang trus ketemu anak saya yang paling lucu dan ngangenin, juga ga sabar pengen ngerti dan merekam di otak momen ketika mereka bertemu.
Lucu juga sih melihat si anak yang lengket terus sama si papa. Kangen, begitu gambaran dari wajah keduanya. Happy banget bisa ngumpul seperti sekarang.
Read More

Memory Dalam Lagu "Tak Bisa Ke Lain Hati - KLA"

AGEE COMPUTER | 9:11 PM | | | |
Masih ingat lagu KLA Project yang judulnya "Tak Bisa Ke Lain Hati", lagu nostalgia sewaktu masih kecil? Bukan maksud terkenang atau mengenang seseorang di masa lalu tapi saya hanya ingin mengenang kenangan indah di waktu kecil atau garis besarnya menginjak remaja. Dunia yang baru bagi saya ketika itu, dunia baru dengan pengalaman dan teman-teman baru. Dunia baru di mana aku melangkahkan kakiku untuk belajar memaknai hidup, mengenal arti persahabatan dan indahnya kebersamaan bersama teman-teman dan sahabat. Dunia baru yang mendewasakan dan memberikan banyak kejutan dalam kehidupan. Dunia di mana saya harus melepas sifat dan kebiasaan yang kekanak-kanakan.



Mengenal berbagai maam karakter teman dan sahabat, dari yang baik, lucu, bawel bahkan yang paking menyebalkan. Teman dan sahabat yang selalu memahatkan kenangan indah di dalam hati. Mereka seslalu memahamiku, selalua menempatkan aku di dalam hati mereka. Yah, meski terkadang saya pernah menyakiti mereka, dan mereka tak sengaja menyakiti saya, namum pada akhirnya kami saling memeluk memaafkan dan kembali bersama.

What a great memory, teman dan sahabat saya di SMP, khususnya teman dan sahabat kelas 1B, 2F, dan 3B. Rindu dengan celoteh dan canda kalian. Rindu momen-momen ketika itu, ketika saya masih berpakaian putih biru. Yang masih saya ingat saat itu saya masih naik sepeda, siang-siang bolong, panas saya harus mengayuh sepeda untuk belajar. Berangkat bersama teman-teman dan bercanda, sampai sekolah berkumpul di depan kelas, dan menunggu kelas usai dipakai oleh kakak kelas, rame saat itu. Ada yang bercanda, serius dengerin temannya cerita, dan bahkan ada yang sedang ngerjain PR, hihihihi...

Indahnya mengenang masa SMP dulu... :D


Read More

Kehilangan HP

AGEE COMPUTER | 3:41 AM | |
Ini kejadian waktu aku masih kuliah semester 2 sekitar tahun 2006. siang itu dalam proses audisi Paduan Suara.

Aku dan dua orang temanku namanya Nania dan Wina (bukan nama sebenarnya) yang kebetulan mengikuti audisi Paduan Suara Kampus, dan kami melakukan persiapan, seperti berlatih vokal di suatu ruangan.
Sambil menunggu panitia yang akan meng-audisi kita, kita menyiapkan lagu untuk ditampilkan kepada para juri, dan berlatih menyanyikan lagu tersebut.



Setelah selesai berlatih vokal, dan menyiapkan lagu andalan, panitia belum juga memanggil kita, karena peserta kali ini sangat banyak, maka kami bertiga memutuskan untuk duduk2 saja dan mengobrol
saking asyiknya ngobrol…entah apa yang Nania pikirkan dan tiba-tiba saja Nania berteriak dengan PD nya “HP ku mana. ..?”
Dan berkatalah si Wina “Emangnya tadi ditaruh dimana?”
“Aku juga lupa” jawab Nania.
Dan ini berlangsung sekitar 5 menit dalam kebingungan tiba-tiba saja si Wina berkata “Nah Nan itu apa Nan?”, sambil menunjuk ke tangan Nania.
Ternyata…. HP Nania dari tadi memang dipegang sama Nania sendiri, sontak aja kami bertiga tertawa….dan untungnya saja cuma ada kami bertiga..
Oalah nduk, nduk, durung tuek kok ya wes pikun.. Hahahaha..
Read More

Simpanse

AGEE COMPUTER | 3:38 AM | | |
Tiba-tiba aku teringat kejadian ketika istirahat sekolah sewaktu SMA. Kebetulan waktu itu aku tidak ingin jajan di luar, karena ada PR yang beberapa nomor belum aku kerjakan (jangan dicontoh, siswi malas, hehehehehe…). Tiba-tiba teman saya bernama Prima mendekati dan menemaniku duduk disamping, dengan tujuan sama, mencontek PR, hahaha..

Entah kenapa tiba-tiba Prima tanya kepadaku, “Mer, cowokmu sapa??”, aku jawab sambil menulis, “Aku gak punya cowok, udah deh gak usah ganggu aku ngerjain PR.”



Mungkin Prima sedang iseng atau entah mencari teman ngobrol sambil ngerjain PR, dia ganti bertanya kepada Lina, teman sekelasku yang duduk di depanku.

“Lin, kamu udah punya pacar belum?” Tanya Prima.
“Sudah. Emang kenapa?”
“Ga apa-apa. Kalau belum, aku pacarin.” Guyonnya.
“Huuuu..” Sorakku pada Prima..
“Emang pacarmu sapa Lin?” Prima masih belum menyerah mengajak ngobrol Lina.
“Cowokku cakep, putih, keren.” Pamer Lina.
“Waaaah, beruntung donk kamu.” Ujar Prima.
“Iyah.”
“Namanya siapa Lin?”
“Ada deeeeh…” Lina masih tidak mau mengaku.
“Ayolaaaah.” Bujuk Prima.
“Namanya…..” Lina masih berfikir. “Namanya, SIMPANSE.”
 
Sontak aku langsung ngakak, dan mereka berdua langsung menatapku aneh, seperti bertanya kenapa aku ketawa.
Lalu aku jelaskan kalau SIMPANSE itu spesies kera. Sontak Prima langsung ketawa ngakak, dan Lina menahan malu.
Aduuuh.. Sorry Lin, gak niat bikin malu, spontan aku ketawa dan bilang tentang Simpanse. Emang mulutku “ember” yah dulu… Hahahahaha…
.
.
Read More

Perahu Kertas

AGEE COMPUTER | 4:15 AM | | |

 
.

.
::: Kenangan cerita tentang masa kecil sang gadis lugu yang tengah bermain dengan sang hujan. Tertawa gembira, tiada gurat sendu di wajahnya, terlihat tak terbebani oleh kejam sang kehidupan.
Ketika ia melintasi sungai yang tergenang oleh kumpulan rinai hujan, ia berhenti sejenak meluangkan sedikit waktu untuk mengamati sang aliran air. Ia menemukan empat perahu kertas yang penuh warna, satu, dua, tiga, empat… Keempat perahu kertas itu seperti sedang berlomba menuju garis finish yang telah ditentukan. Dipungutnya salah satu perahu kertas tadi, dan ia membuka lipatan demi lipatan. Ada beberapa kalimat pada perahu kertas itu yang membuat ia tertarik. Ia tertegun sekejap, dan kemudian ia berlari mengejar tiga perahu kertas yang masih berlomba.

Satu persatu ia membuka lipatannya, di bukanya pelan-pelan agar tidak ada yang robek pada sisi-sisinya. Ada pesan di dalam perahu kertas itu, pesan dari seseorang di tujukan untuk Tuhan beserta alam. Sang gadis mengurutkan pesan dari ketiga perahu kertas itu, dan dibacanya satu-persatu.



::: Perahu kertas pertama berbunyi:

Tuhan, beserta sekalian alam, aku ingin memohon kepadamu. Lindungi ibu dan ayahku di surga. Jauhkanlah mereka dari siksaanmu, dan sayangi mereka seperti mereka menyayangiku ketika aku kecil. Meski hanya beberapa tahun aku bersama mereka, namun mereka adalah orang tuaku yang membesarkan aku. Jagalah mereka ya Tuhan. Esok hari aku akan menemui mereka, memeluk mereka, dan bercerita tentang perjalanan hidup yang telah aku lewati. Tentang kebahagiaanku, bahkan kekecewaanku. Tuhan, katakan pada mereka, aku menyayangi mereka, bibirku selalu tak luput mendoakan untuk mereka.
::: Perahu kertas kedua berbunyi:

Tuhan, beserta sekalian alam. Hari ini umurku menginjak 20 tahun, dan aku sedang merasakan jatuh cinta. Cinta pertama pada seorang pemuda tampan yang mempunyai jiwa seperti Muhammad saw. Tuhan, ijinkan aku menyayangi dia, jika Engkau tak merestui aku dan ciptaan-Mu yang sempurna itu bersatu. Aku tak ingin lancang memiliki seseorang jika itu bukan untukku, karena Engkau maha mengetahui yang terbaik untukku.

::: Perahu kertas ketiga berbunyi:

Tuhan, dan beserta alam. Umurku hari ini 20 tahun. Aku pun tak tahu batas umurku, aku tak tahu batas umur diambang kematianku. Tuhan, aku ingin selalu menjalankan semua perintah-Mu, menjalankan semua kewajiban yang engkau perintahkan tanpa memikirkan hak yang aku peroleh, karena aku ingin berbakti dan mendapatkan tempat di sisi-Mu. Tuhan, jika umurku panjang, berilah aku kesehatan agar senantiasa aku selalu bersujud pada-Mu. Jika Engkau memberikan umur pendek, aku ingin di akhir hayat dan ketika aku menghembuskan nafas, aku tak bergelimangan dosa.
Kemudian gadis itu membuka perahu kertas yang keempat:

::: Kosong. 

Tiada pesan yang tertulis di situ.

Gadis itu segera beranjak, dan berlari. Ia menelusuri sungai kecil, mencari seseorang penulis pesan kepada Tuhan. Ia berlari tanpa memperdulikan hujan yang semakin menepi, dingin mengigil tubuhnya. Tak lama ia menemukan seorang gadis berpayung biru berdiri di depan sungai kecil, memegang sebuah perahu kertas warna ungu.
Gadis kecil itu mendekat kepada gadis berpayung biru. Di sapanya sang gadis berpayung biru dengan ramah.
“Kakak yang menulis tulisan-tulisan ini bukan?” Ditunjukannya empat lembar kertas.
Gadis itu mengangguk, tersenyum manis.
“Namaku Shinta, nama kakak siapa?” Gadis itu tersenyum. Kemudian ia menuliskan sesuatu pada catatan kecilnya, kemudian ditunjukkannya sebuah nama. RIA.
“Kakak bisu?” Gadis bernama Ria itu menggeleng.
“Lalu kenapa kakak menulis semua ini?”
“Aku hanyalah seorang gadis yang tak sanggup berdiri pada kehidupan, hanya doa-doa yang menguatkan aku. Aku senang sekali menuliskan doa pada secarik kertas, lalu ku buat perahu agar ia berjalan sampai tempat tujuan yang ingin ia capai, aku ingin doaku terwujud pada keadaan apapun. Hidupku seperti itu, seperti perahu kertas itu, berjalan seperti air mengalir, dan tak selamanya lurus ke depan. Perahu kertas itu mengingatkan aku pada perjalanan hidup. Hanya doa dan sebuah usaha juga keyakinan yang mampu membuatku hidup hingga sekarang.” Diam sejenak. “Aku harus pergi, hujan sudah menepi. Terima kasih kamu sudah memungut perahu-perahu kertasku. Disitu ada lembar kosong, kamu boleh menuliskan sesuatu di dalamnya, perbincangkanlah pada alam.”
Ria kemudian berbalik, berhenti sejenak, dan kemudian berbalik lagi menatap gadis kecil itu, tersenyum.

Gadis kecil bernama Shinta meneruskan perjalanan pulang, sambil menggenggam lembaran kertas, yang terlipat-lipat, membawa kenangan “perahu kertas” dari Ria. Perahu kertas itu yang mengingatkan betapa hidup itu tak selalu berjalan dengan mulus, sesekali ia menabrak, dan sesekali ia berjalan terus hingga pada garis finish kehidupan yang telah Ia tentukan.

Read More